Dampak Perubahan Iklim Terhadap Naiknya Permukaan Laut (By : Masudin Sangaji)

Naiknya permukaan laut dapat mempengaruhi wilayah pantai, yang selanjutnya mempengaruhi moda transportasi laut. Apabila permukaan air naik maka terjadi pasang. Pasang ini dapat merusak jalan yang dekat dengan pantai dan merusak prasarana jalan yang ada..
Beberapa fasilitas angkutan utama di Kota besar New York rawan terhadap efek peningkatan permukaan laut dan angin topan surges, mencakup Galangan kapal Greenville, Galangan kapal Harlem, Galangan kapal Oak Island, dan Terminal Kereta Express. Secara keseluruhan, New York City yang berada pada 600 miles tepi laut, hampir semua dapat mengalami kerusakan akibat banjir dan angin topan.
Fasilitas transportasi pada Teluk Pantai kemungkinan akan mengalami terjadinya angin topan dan banjir. Pada laporan tahunan disebutkan bahwa negara bagian Louisiana, Florida, dan Texas merupakan tiga besar negara di yang akan mengalami kerusakan akibat angin topan dan banjir karena adanya perubahan iklim (Caldwell at al, 2004).
Pemanasan global, salah satu perubahan iklim global, telah diyakini berdampak buruk bagi kelangsungan hidup manusia di berbagai wilayah dunia. Wilayah pesisir adalah wilayah yang paling rentan terkena dampak buruk pemanasan global sebagai akumulasi pengaruh daratan dan lautan. Dalam ringkasan teknisnya tahun ini, Intergovernmental Panel on Climate Change, suatu panel ahli untuk isu perubahan iklim, menyebutkan tiga faktor penyebab kerentanan wilayah ini (TS WG I IPCC, 2007:40).

Gambar 1. Deskripsi pengaruh peubahan iklim terhadap wilayah pesisir (IPCC, 2007).

Pertama; pemanasan global ditengarai meningkatkan frekuensi badai di wilayah pesisir. Setiap tahun, sekitar 120 juta penduduk dunia di wilayah pesisir menghadapi bencana alam tersebut, dan 250 ribu jiwa menjadi korban hanya dalam kurun 20 tahun terakhir (tahun 1980-2000). Peneliti bidang Meteorologi di AS mencatat adanya peningkatan frekuensi badai tropis di Laut Atlantik dalam seratus tahun terakhir (KCM, 31 Juli 2007). Pada periode 1905-1930 di wilayah pantai Teluk Atlantik terjadi rata-rata enam badai tropis per tahun. Rata-rata tahunan itu melonjak hampir dua kali lipat (10 kali badai tropis per tahun) pada periode tahun 1931-1994 dan hampir tiga kali lipat (15 kali badai tropis) mulai tahun 1995 hingga 2005. Pada tahun 2006 yang dikenal sebagai “tahun tenang” saja masih terjadi 10 badai tropis di wilayah pesisir ini. Juga dilaporkan pola peningkatan kejadian badai tropis ini tetap akan berlangsung sepanjang pemanasan global masih terjadi.
Kedua; pemanasan global diperkirakan akan meningkatkan suhu air laut berkisar antara 1-3C. Dari sisi biologis, kenaikan suhu air laut ini berakibat pada meningkatnya potensi kematian dan pemutihan terumbu karang di perairan tropis.

Gambar 2. Citra satelit tahun 1998, 2002 dan 2005 yang menunjukkan rata-rata suhu maksimum bulanan dan lokasi pemutihan terumbu karang di dunia. (Sumber: NOOA Coral Reef Watch and Reefbase dalam IPCC, 2007).

Dampak ini diperkirakan mengulang dampak peristiwa El Nino Southern Oscillation (ENSO) di tahun 1997-1998. World Resource Institute tahun 2002 menyatakan suhu air laut yang meningkat 1-3C pada saat itu telah memicu peristiwa pemutihan terumbu karang yang terbesar sepanjang sejarah. Hampir sekitar 18% terumbu karang di Asia Tenggara rusak dan hancur. Di Indonesia sendiri cakupannya mulai dari perairan Sumatera, Jawa, Bali hingga Lombok. Terjadi kematian sebanyak 90-95% terumbu karang di wilayah perairan Kepulauan Seribu dan 2 tahun setelah kejadian baru pulih 30%. El nino tahun itu juga telah menyebabkan sekitar 90% terumbu karang di Kepulauan Mentawai mengalami kematian.
Ekosistem terumbu karang di perairan Indonesia seluas 51.875km2, yang setara dengan sepertiga luas pulau Jawa, terancam rusak dan hancur secara permanen jika pemanasan global terus berlangsung. Ini juga berarti terancamnya kelangsungan berbagai macam kehidupan biota laut yang tergantung hidupnya pada ekosistem alam ini. Kerusakan terumbu karang juga berarti hilangnya pelindung alam wilayah pesisir yang akan memicu peningkatan laju abrasi pantai.
Luas terumbu karang Indonesia diduga berkisar antara 50.020 Km2 (Moosa dkk, 1996 dalam KLH, 2002) hingga 85.000 Km2 (Dahuri 2002). Hanya sekitar 6 persen terumbu karang dalam kondisi sangat baik, diperkirakan sebagian terumbu karang Indonesia akan hilang dalam 10-20 tahun dan sebagian lainnya akan hilang dalam 20-40 tahun. Rusaknya terumbu karang mempunyai dampak pada masyarakat pesisir, misalnya berkurangnya mata pencaharian nelayan kecil. Dampak lainnya yaitu meningkatnya suhu permukaan air laut, yang akan berpengaruh terhadap produktivitas perikanan. Hal ini akan menurunkan produksi tambak ikan dan udang serta mengancam kehidupan masyarakat pesisir pantai.
Indonesia sebagai negara kepulauan merupakan negara yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Untuk itu pemerintah dan seluruh penduduk Indonesia harus segera mewaspadai hal ini dan menentukan langkah-langkah strategis untuk menanggulanginya. Secara umum dapat dibedakan 4 (empat) macam kemungkinan dampak kenaikan permukaan air laut (Noronha, 1991 : Soegiarto, 1991):
1. Dampak fisik; peningkatan kerusakan karena banjir dan gelombang pasang, erosi pantai dan peningkatan sedimentasi, perubahan kecepatan aliran sungai, meningkatnya gelombang laut, dan meningkatnya keamblesan (subsidence) tanah.
2. Dampak ekologis; hilang/mengurangnya wilayah genangan (wetland) di wilayah pesisir, intrusi air laut, evaporasi kolam garam, hilang/mengurangnya tanaman pesisir, hilangnya habitat pesisir, berkurangnya lahan yang dapat ditanami, dan hilangnya biomassa non-perdagangan.
3. Dampak sosio-ekonomis; terpengaruhnya lingkungan permukiman, kerusakan/ hilangnya sarana dan prasarana, kerusakan masyarakat/desa pantai, korban manusia dan harta benda bila terjadi gelombang pasang, perubahan kegiatan ekonomi di wilayah pesisir, peningkatan biaya asuransi banjir, hilang/berkurangnya daerah rekreasi pesisir, meningkatnya biaya penanggulangan banjir.
4. Dampak kelembagaan/hukum; perubahan batas maritim, penyesuaian peraturan perundangan, perubahan praktek pengelolaan wilayah pesisir, perlu dibentuknya lembaga baru untuk menangani kenaikan paras laut, dan peningkatan pajak.
Indonesia tidak luput dari dampak perubahan iklim dan berada pada posisi yang sangat rentan terhadap perubahan iklim, karena banyaknya pulau yang dimiliki Indonesia (Indonesia memiliki garis pantai nomor dua terpanjang di dunia (14% dari garis pantai dunia). Naiknya temperatur akan berpengaruh terhadap mencairnya salju/es di kutub yang pada akhirnya berakibat terhadap naiknya permukaan air laut. Hal ini akan menyebabkan hilangnya sejumlah pulau kecil dan abrasi yang cukup serius, sehingga terancamnya jutaan penduduk dan petani yang tinggal di daerah pesisir pantai.
Jika Indonesia dan negara lainnya tidak melakukan upaya apapun untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, maka diperkirakan pada tahun 2070 akan terjadi kenaikan permukaan laut setinggi 60 cm. Hal ini diperkirakan akan mengancam jutaan penduduk yang tinggal di pesisir pantai, khususnya sektor pertanian dimana kehidupan para nalayan yang sangat bergantung kepada kegiatan disekitar pantai. Tidak hanya berakibat terhadap petani nelayan di pantai, tetapi hal ini akan mengakibatkan intrusi yaitu meresapnya air laut ke daratan yang akan mempengaruhi salinitas tanah dan berdampak terhadap kesuburan tanah bagi para petani, sehingga produksinya menurun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: