Dampak Perubahan Iklim

By: Masudin Sangaji (http://coastalmarine-dino.blogspot.com)

Iklim adalah rata-rata kondisi cuaca yang merupakan interaksi yang kompleks antara proses-proses fisik, kimia, biologi yang mencerminkan interaksi antara geosfer, biosfer yang terjadi pada atmosfer bumi. Karena itu iklim suatu tempat atau wilayah merupakan deskripsi statistik tentang kondisi atmosfer dalam jangka waktu yang panjang sehingga menggambarkan rata-rata variabel cuaca (Murdiyarso, 1999).

Menurut laporan IPCC (2001), sistem iklim merupakan sistem yang saling berinteraksi dari kelima komponen sistem yang terdapat di planet bumi. Sistem iklim yang  terjadi di planet bumi merupakan sistem yang kompleks yang melibatkan interaksi dari atmosphere dengan berbagai komponen sistem iklim yang lain. Komponen sistem iklim yang lain terdiri dari lima komponen utama yaitu atmosphere, hidrosfer, Kriosfer, permukaan tanah dan biosfer (Gambar 1).

Gambar 1. Komponen dan Interaksi Sistem Iklim Bumi

Cuaca berubah sepanjang waktu, iklim biasanya akan sama berabad-abad jika tidak diganggu. Tetapi, bumi tidak dibiarkan sendirian. Manusia melakukan aktivitas yang signifikan sehingga merubah bumi dan iklimnya. Perubahan iklim disebabkan oleh efek gas rumah kaca (GRK), yaitu gas-gas hasil emisi yang terakumulasi di stratosfer.

Sumber; IPCC, 2007

Gambar 2. Suplai CO2 dari Bumi bagi Gas Rumah Kaca

Konsepsi perubahan iklim yang digunakan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) merujuk pada “setiap perubahan dalam iklim pada suatu selang waktu tertentu, apakah diakibatkan oleh variasi alamiah atau karena aktivitas manusia” (anthropogenic) (IPCC, 2001). Perubahan iklim global saat ini jelas akibat meningkatnya suhu rata-rata udara dan laut, mencairnya salju dan es, serta meningkatnya permukaan air laut (IPCC, 2007).

Bukti-bukti baru yang kuat menyatakatan bahwa mayoritas pemanasan bumi yang diobservasi selama 50 tahun terakhir disebabkan oleh aktifitas manusia (IPCC, 2007).  Dalam The Fourth Assessment to IPCC yang dijadwalkan terbit Februari 2007, dasar ilmiah yang menyatakan aktivitas manusia sebagai penyebab semakin kuat (Pachauri, dalam Hanley, 2006).

Tabel 1. Gas Rumah Kaca yang Utama dan Gambaran Umum Perubahan Iklim

GAS

LIFE TIME

(tahun)

KONSENTRASI GWP SUMBER
PRA INDUSTRI 1994
CO2 50-200 280 ppm 385 ppm 1 BBF & Deforestasi
CH4 12-17 700 ppb 1720 ppb 21 Biologi & Pertanian
N2O 120 275 ppb 312 ppb 310 Energi & Pabrik Pupuk
CFC12 102 0 505 ppt 8500 Industri Kimia
HFC 1,5-264 0 110 ppb 140-11700 Proses Industri
CF4 50000 0 70 ppt 6300 Antropogenik
INDIKATOR PERUBAHAN YANG TERJADI
INDIKATOR KONSENTRASI
Konsentrasi CO2 di atmosfer 750 ppm (1000-1750) menjadi 368 ppm (2000); meningkat 31+/-34%
Pertukaran CO2 di bumi 30 Gt C (1800-2000), tetapi selama tahun 1990-an sekitar 14-17 Gt C
Konsentrasi CH4 di atmosfer 700 ppm (1000-1750) menjadi 1750 (2000); meningkat 151+/-25%
Konsentrasi N2O di atmosfer 270 ppb (1000-1750) menjadi 316 ppb (2000);
INDIKATOR CUACA
Suhu atmosfer bumi rata-rata global Meningkat 0,6 ± 0,2 selama abad ke-20
INDIKATOR FISIK
Kenaikan permukaan Air Laut Meningkat 1-2 mm rata-rata per tahun selama  abad ke-20
Penurunan permukaan daratan

Sumber: IPPC Technical Paper V, 2002

Dalam buku Climate Change 2001: The Scientific Basic (IPCC, 2001), IPCC menyatakan hasil-hasil observasi yang semakin jelas memberikan suatu kumpulan gambaran akan adanya pemanasan dunia dan perubahan dalam sistem iklim.  Pertama, temperatur permukaan rata-rata (rata-rata temperatur udara dan permukaan air) telah meningkat sejak tahun 1861. Sepanjang abad XX, peningkatan suhu adalah 0,6±0,2 oC, dimana peningkatan terutama terjadi antara 1910-1945 dan 1976-2000, dimana dekade yang paling panas adalah 1990-2000 dan tahun terpanas adalah 1998 (Gambar 3).

Gambar 3. Variasi Suhu Permukaan Bumi (IPCC: 2001 )

Dalam Draft Fourth Assessment dikatakan bahwa 30 tahun terakhir adalah era paling panas dan muka laut meningkat 3 mm/tahun antara 1993 sampai dengan 2003 (Hanley, C.J., 2006). Peningkatan suhu bumi telah menyebabkan matinya atau berubahnya banyak spesies hewan dan tanaman yang lebih cepat dari prediksi sehingga membuat ahli biologi dan ekologi “terperangah” (Borenstein, 2006). Pengaruh dan keterpengaruhnya perubahan iklim terhadap kesehatan manusia, ozon, dan LULUCF dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Hubungan Perubahan Iklim dengan Kelangsungan Hidup Makhluk Hidup

Perubahan iklim juga menyebabkan pada abad XX terjadi peningkatan curah hujan di wilayah tropis sebesar 0,2-0,3%.  Namun sebaliknya, di beberapa wilayah Asia dan Afrika, frekuensi dan intensitas kekeringan terobservasi meningkat pada dekade terakhir. Selanjutnya, episode hangat karena kejadian El Nino-Southern Oscillation (ENSO) telah terjadi lebih sering, tetap, dan lebih intensif sejak pertengahan 1970an.

Perubahan iklim terjadi sebagai akibat dari dua hal, yaitu variasi internal dalam sistem iklim dan variasi eksternal (alamiah maupun anthropogenic). Pengaruh faktor-faktor eksternal pada iklim dapat dibandingkan dengan menggunakan konsep radiative forcing, yang merupakan suatu ukuran dari pengaruh yang dimiliki suatu faktor dalam merubah keseimbangan energi yang masuk dan keluar dalam sistem atmosfir bumi, dan merupakan indeks pentingnya faktor tersebut dalam mekanisme perubahan iklim, yang dinyatakan dalam Watt per meter kuadrat (W m-2).  Bila radiative forcing adalah positif maka akan cenderung memanaskan permukaan bumi, sebaliknya bila radiative forcing negatif akan mendinginkan permukaan bumi.  Faktor-faktor alamiah seperti perubahan pada solar output atau aktifitas letusan gunung juga menyebabkan radiative forcing.

Untuk menghindari akibat-akibat yang sangat buruk bagi eksistensi manusia karena pemanasan global maka upaya-upaya penurunan emisi atau pencegahan kenaikannya telah mulai dilakukan. Disadari bahwa upaya-upaya tersebut mahal harganya. Alasan Amerika Serikat untuk menarik diri dari Protokol Kyoto adalah karena alasan ekonomi tersebut. Nicholas Stern (Lovell, J., 2006) menyatakan bahwa upaya menurunkan emisi CO2 saat ini pada tingkat sebelum tahun 1990 akan berbiaya sebesar 1% dari total output ekonomi dunia. Namun, penundaan terhadap tindakan tersebut akan membawa konsekuensi sebesar 20% dari total output dunia.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: